Kurangnya Kewaspadaan Diri di Era Digital Jadi Titik Awal Pencurian Data Pribadi

  • Jumat, 20 Desember 2024
  • 747 views
Kurangnya Kewaspadaan Diri di Era Digital Jadi Titik Awal Pencurian Data Pribadi

Jakarta (19/12/2024) – Maraknya aplikasi untuk mempermudah aktivitas pekerjaan manusia sudah banyak digunakan oleh kalangan anak muda dan juga orang tua. Seringkali, aplikasi dan tautan yang diakses oleh pengguna memerlukan data pribadi agar bisa digunakan sesuai fungsinya. Kadangkala pengguna tidak membaca syarat dan ketentuan, sehingga pengguna memperbolehkan aplikasi atau tautan untuk mengakses kamera, ruang penyimpanan dokumen, dan microphone gawai pribadinya. Memberikan akses kepada aplikasi dan tautan dari sumber tidak terpercaya menjadi ketidakwaspadaan pengguna yang dapat mengakibatkan pencurian data pribadi.

Hal itu disampaikan oleh Indriyatno Banyumurti (Direktur Eksekutif ICT Watch dan Direktur PT. Chelonind Integrated) sebagai narasumber di Webinar Series Ke-50 Magnitude Indonesia, Kamis (19/12). Indriyatno menyampaikan rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sehari-harinya untuk membuka aplikasi media sosial dan internet selama 10 jam. Pemakaian koneksi internet sembarangan seperti wifi publik untuk membuka media sosial dapat menyebabkan pencurian data pribadi. “Hati-hati dalam penggunaan tautan dan pemakaian wifi publik yang tidak kredibel karena bisa jadi praktik pencurian data dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab” ujar Indriyatno Banyumurti.

Dalam webinar tersebut, Indriyatno Banyumurti juga mempraktekan bagaimana pencurian data dapat dilakukan dengan mengakses tautan via QR Code. Dengan memperlihatkan dan mengajak peserta webinar memindai QR Code yang telah dibuat, Indriyatno dapat mengakses gawai masing-masing peserta yang memperlihatkan lokasi, foto kamera depan, dan dokumen-dokumen yang diakses oleh para peserta. Hal itu menyadarkan para peserta agar tidak memindai QR Code di area-area publik.

Terdapat beberapa praktek yang dilakukan oleh para pencuri data, Indriyatno menyebutkan salah satunya adalah praktek Phishing, yaitu upaya untuk mendapatkan informasi data seseorang dengan teknik pengelabuan yang menargetkan pencurian data pribadi, data akun, dan data finansial. Praktek tersebut biasanya berawal dari menanyakan identitas diri yang dengan imbalan akan mendapatkan promo atau hadiah dari perusahaan e-commerce.

Untuk menangkal hal tersebut, Indriyatno menyarankan untuk tidak memakai one password for all (tidak menggunakan satu password untuk semua akun). Ia juga mengajarkan untuk membuat password dengan privasi yang lebih aman untuk mencegah kebocoran data pribadi seperti dengan menggabungkan huruf besar, huruf kecil, simbol, dan angka, serta mengganti password secara berkala.

Selain itu, dalam pembukaan Webinar Series Ke-50 Magnitude Indonesia. CEO Magnitude Indonesia, Dosen Universitas Paramadina, dan Ketua Komisi Informasi Pusat 2011-2013, yaitu Abdul Rahman Ma’mun mengatakan webinar yang diselenggarakan di akhir penghujung tahun 2024 ini sebagai pengingat kepada masyarakat agar berhati-hati dalam memberikan data pribadi ke tautan-tautan yang di kredibel. “Data pribadi yang diberikan secara tidak sengaja dapat menimbulkan kerugian seperti menerima pesan dari orang yang tidak dikenal lewat Whatsapp pribadi maupun telepon” ujar Abdul Rahman Ma’mun.

CEO Magnitude Indonesia tersebut juga menyebutkan kadang pencurian informasi bukan dari upaya orang yang tidak bertanggung jawab kepada pengguna internet, tetapi kita sebagai pengguna yang kurang akan kewaspadaan dalam mengakses sesuatu. Sehingga, pengguna internet dapat memberikan data pribadi dengan mudah.

Penulis: Magnitude Indonesia

Magnitude Indonesia adalah perusahaan konsultan keterbukaan informasi dan komunikasi publik yang berpengalaman mengembangkan sistem dan strategi komunikasi dan layanan informasi publik

Kontak Kami

Hubungi kami jika anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar pelayanan kami